Kisah Tentang Santo Frederikus

Frederikus hidup pada abad kesembilan di Utrecht, di bagian tengah Belanda. Setelah ditahbiskan menjadi imam, Uskup Ricfried menyerahinya tanggung jawab atas biara-biara. Sekitar tahun 825, ia dipilih untuk menggantikan Ricfried sebagai Uskup Utrecht. Uskup Frederikus menaruh perhatian besar pada umat dalam keuskupannya. Ia juga memberikan prioritas utama pada karya misi. Ia mengutus St. Odulf dan imam-imam lainnya yang gagah berani ke daerah-daerah di mana penduduknya masih kafir. Ia menghendaki mereka mendengar warta Kabar Gembira.

Karena kedudukannya sebagai uskup, Frederikus mendapatkan musuh-musuh juga. Putera-putera raja sangat menentang cara hidup amoral ibu angkat mereka. Mereka meminta Uskup Frederikus untuk berbicara kepada Ratu Yudit. Uskup mendekatinya dengan lembut namun tegas. Ratu tidak senang dinasehati. Ia malahan marah dan merasa terhina. Tantangan yang lain adalah orang-orang yang tinggal di bagian utara keuskupan Frederikus yang disebut kaum Walcheren. St Frederikus mengutus imam-iman untuk menghantar orang-orang di sana pada iman akan Yesus. Frederikus tahu daerah itu berbahaya dan tidak bersahabat. Ia terus memantau imam-imam yang ia utus. Ia menyemangati mereka dan berusaha membantu agar masyarakat menerima kekristenan. Meski begitu, mereka tidak siap untuk mendengarkan dengan cara apapun. Mereka membalas perhatian uskup kepada mereka dengan kedengkian.

St Frederikus terus menggembalakan keuskupannya dengan giat dalam kasih. Pada tanggal 18 Juli 838 terjadilah suatu tragedi. Uskup baru saja merayakan Misa. Dengan khusuk ia mengucap syukur ketika dua orang menikamnya dengan pisau. Sebuah ayat dari Mazmur 116 terlintas di benaknya. Perlahan-lahan, uskup yang di ambang ajal itu berdoa, “Aku boleh berjalan di hadapan TUHAN di negeri orang-orang hidup.” Beberapa menit kemudian ia pun wafat. Sebagian orang mengatakan Ratu Yuditlah yang mengutus pembunuh-pembunuh bayaran karena murkanya kepada uskup. Sebagian orang beranggapan bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah orang-orang Walcheren. Para pembunuh tidak pernah tertangkap dan dihukum. Uskup Frederikus dihormati sebagai seorang martir dan santo.

Apabila kita mendapati diri kita khawatir akan hal-hal yang ada di sekeliling kita, baiklah kita perlahan-lahan berdoa dari Mazmur 116: “Aku boleh berjalan di hadapan TUHAN di negeri orang-orang hidup.”

sumber

http://indocell.net/yesaya/id230_s__frederikus.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: